Sejarah Bursa Berjangka di Indonesia

Monday, May 28, 2012



Pada tahun 1991 pemerintah menganjurkan agar para pelaku pasar berbagi asosiasi komoditi memperdagangkan komoditi secara berjangka, akan tetapi hanya 3 asosiasi yang bersedia memperdagangkan komoditinya di bursa. Ketiga asosiasi itu adalah Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI),  AIMNI, dan gabungan Asosiasi Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (GAPKI).
Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Kekayaan tersebut berupa hasil pertanian dan barang tambang. Ketika hasil kekayaan tersebut diperdagangkan secara internasional diperlukan suatu perlindungan harga (Hedging) untuk mengatasi perubahan kurs nilai tukar mata uang. Karena itulah keberadaan bursa berjangka sangat diperlukan. Karena itu pemerintah Indonesia membuat bursa berjangka yang bisa memfasilitasi dan memberi pelayanan kepada para anggotanya baik produsen maupun konsumen untuk saling bertransaksi dengan baik dan sesuai aturan yang berlaku di bursa internasional.


Pada tahun 1992 diputuskan oleh pemerintah agar pihak swasta yang mendirikan bursa. Selanjutnya dibentuk tim yang terdiri dari utusan Federasi Asosiasi Minyak Nabati Indonesia (FAMNI) yakni gabungan dari AIMNI dan GABPKI serta AEKI, yang kemudian di angkat/diresmikan dengan Surat Keputusan Menteri Perdagangan. Pemerintah mengumpulkan dana guna membiayai konsultan dari Australia dan malaysia serta mendanai studi kelayakan, rencana usaha dan rancangan tata tertib bursa. Disamping itu, pemerintah juga mengusahakan adanya UU perdagangan berjangka di Indonesia.

Tim yang ditunjuk oleh memperindag untuk mempersiapkan pendirian bursa di tolak oleh DPR RI dan hal itu menjadi alasan untuk penundaan diterbitkannya undang-undang tentang bursa berjangka.

Ketika badai krisis moneter melanda Indonesia pertengahan tahun 1997, Indonesia akhirnya memiliki UU No. 32 Tahun 1997. Krisis ekonomi itu memuncak hingga tahun 1998 dan hampir tidak ada kegiatan itu memuncak hingga tahun 1998 dan hampir tidak ada kegiatan tentang pembentukkan bursa yang diadakan selama itu.

Pada 27 Januari 1999 gerakan pendirian bursa dimulai lagi. AEKI dan FAMNI bekerja dengan sangat cepat, melakukan rekrutmen calon pendiri yang dilakukan oleh anggota masing-masing asosiasi dan unsur dari luar asosiasi.

Waktu itu Bappebti mengharuskan semua unsur layak dan patut sesuai dengan ketentuan UU. Setelah melalui proses pemeriksaan, beberapa calon ditolak karena dianggap tidak layak dan tidak patut menjadi pendiri bursa. memang calon yang ditolak karena terafiliasi dengan organisasi lain dan ada pula yang mengundurkan diri.

Satu Jam sebelum pertemuan pembentukan perseroan bursa pada tanggal 19 Agustus 1999, AEKI dan FAMNI berhasil mengumpulkan 29 perusahaan tidak terafiliasi dari berbagai jenis industri yang bergerak di bidang usaha kopi,sawit,keuangan dan perdagangan.

Akhirnya pada 11 juli 2000, permohonan izin usaha suatu bursa berjangka diserahkan kepada Bappebti. Hal ini merupakan permohonan izin usaha pertama untuk suatu bursa berjangka dalam sejarah Indonesia. Selanjutnya pada 21 November 2000, Bursa Berjangka Jakarta disingkat BBJ resmi mendapatkan izin dari BAPPEBTI. Melalui perjuangan yang panjang selama bertahun-tahun, BBJ resmi berdiri sebagai bursa berjangka pertama di Indonesia, dan melakukan perdagangan perdananya pada 15 Desember 2000. Komoditas yang diperdagangkan pertama kali di BBJ adalah dua komoditi yaitu kopi robusta dan olein.

Pada 1 Februari 2002, diluncurkan komoditi emas (gold) yang dipercaya akan membuat perdagangan berjangka semakin ramai dan marak. Emas dianggap sebagai bahan yang sudah sangat familiar dengan masyarakat Indonesia.

Sumber: Murtiningrum
 
Copyright © 2016. syamsularies.
Design by Herdiansyah Hamzah. & Distributed by Free Blogger Templates
Creative Commons License