Kisah Kendi Retak

Thursday, March 3, 2011

Aku merasa sedih. Aku adalah tempat untuk mengangkut air dan tubuhku dibuat dari tanah liat yang dibentuk dan dibakar. Tapi bukan ini yang membuatku sedih. Aku memiliki perbedaan dengan teman-temanku yang lain. Aku sering merasa minder. Mereka kelihatannya begitu sempurna dan tidak memiliki kekurangan seperti yang ada padaku. Mereka mampu mengangkut air utuh dari sumur sampai ke rumah Tuanku. Sedangkan aku, karena keretakan dalam tubuhku, air terus menetes keluar hingga aku hanya mampu membawa setengah air sampai ke rumah tuanku. Aku tidak mengerti mengapa ini harus terjadi padaku.

Yang lebih membuatku heran adalah Tuanku yang terus menggunakan aku untuk mengangkut air. Aku tidak mengerti mengapa Dia terus menggunakan aku meskipun selalu ada air yang tercecer di halaman rumah karena tubuhku yang retak ini. Bahkan menambal pun tidak dilakukannya.

Walaupun sudah sekian lama ini terus terjadi, aku tetap tidak mengerti.

Ini terus berlangsung hingga tiba-tiba aku melihat Tuanku tersenyum bahagia pada suatu saat ketika memandang halaman rumahNYA. Aku ingin tahu lalu ikut melihat apa yang Dia lihat. Ternyata setelah sekian lama, di sepanjang tempat biasanya air jatuh menetes saat membawaku, tumbuhlah deretan tanaman bunga elok yang berwarna-warni. Beberapa kupu terbang riang di sekitarnya. Semuanya tampak begitu hidup dan indah. Aku terkejut dan sadar akan semua yang telah terjadi. Lewat diriku dan bahkan kekuranganku, muncullah keindahan, kehidupan, dan senyum kebahagiaan bagi mahluk-mahluk di sekitarku. Dan aku merasa hidupku kini sungguh berarti.


Source : anonymous
Edited by : Brigitta Erlita, M.Psi (Yogyakarta, 3 Maret 2011)
 
Copyright © 2016. syamsularies.
Design by Herdiansyah Hamzah. & Distributed by Free Blogger Templates
Creative Commons License